Jurnalistik Menyenangkan Loh!


Asal-usul Jurnalistik
Secara singkat jurnalistik memiliki arti: kegiatan pencatatan dan atau pelaporan serta penyebaran tentang kejadian sehari-hari. Secara tidak sadar, saat kita update status, menulis diary, menceritakan kejadian yang baru saja terjadi pada orang lain, dll. Merupakan salah satu dari karya jurnalistik. Karena karya jurnalistik merupakan tulisan yang berupa fakta, dan fakta tersebut terbukti kebenarannya. 


Asal kata jurnalistik sendiri adalah dari kata “Journal” atau “Du Jour” yang berarti “hari” di mana segala berita atau warta sehari itu termuat dalam lembaran tercetak. Secara harfiah, jurnalistik (journalistic) artinya kewartawanan atau hal-ihwal pemberitaan. Kata dasarnya ‘jurnal’ (journal), artinya laporan atau catatan dan ‘jour’ dalam bahasa Prancis yang berarti ‘hari’ (day) atau ‘catatan harian’ (diary). Dalam bahasa Belanda, journalistiek artinya penyiaran catatan harian. Istilah jurnalistik berasal dati kata Acta Diurna yang terbit di zaman Romawi, di mana berita-berita dan pengumuman ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang kala itu disebut Forum Romanum


Acta Diurna pertama muncul pada tahun 131 SM pada masa Republik Romawi. Isi awalnya berupa catatan proses dan keputusan hukum. Namun akhirnya berkembang menjadi pemberitahuan publik dan informasi berguna lainnya, misalnya kelahiran, perkawinan, dan kematian dari keluarga terpandang. Setelah beberapa hari dipajang, papan tersebut diturunkan, dan beritanya diarsipkan.
Dulu, ahli sejarah Romawi pada awal berdirinya kerajaan Romawi mencatat segala kejadian penting yang diketahuinya pada annals (sebuah papan tulis yang digantungkan di serambi rumahnya). Catatan di papan tulis tersebut merupakan pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukan berita tersebut.  

Sejarah Jurnalistik Versi Islam

Tahukah kamu? Wartawan pertama di dunia adalah Nabi Nuh AS. Para ahli sejarah menamakan Nabi Nuh sebagai seorang pencari berita dan penyiar kabar atau yang biasa kita ketahui sebagai wartawan yang pertama kali di dunia. Bahkan sejalan dengan teknik dan caranya mencari serta menyiarkan berita-berita yang ada, mereka menunjukkan bahwa sesungguhnya kantor berita pertama di dunia adalah kapal milik Nabi Nuh AS.

Bahasa Jurnalistik


Bahasa Jurnalistik adalah gaya bahasa yang biasa digunakan oleh wartawan dalam menulis berita. Bahasa jurnalistik harus komunikatif, maksudnya tidak boleh bertele-tele, tidak konotatif, tidak berbasa-basi, to the point. Bahasa jurnal juga harus spesifik, kalimatnya pendek, jelas dan mudah dimengerti. Karena pada dasarnya bahasa jurnalistik adalah alat yang digunakan pers untuk kebutuhan komunikasi dengan pembaca supaya pembaca paham dengan apa yang disampaikan wartawan, sehingga pembaca bisa memiliki pemahaman yang sama dengan wartawan yang menyampaikan berita tersebut. 

Buku Putih dan SOP (Standart Operational Procedure)

Masing-masing media memiliki kata-kata yang telah disepakati sebelumnya. Jika kita perhatikan, terdapat perbedaan kata-kata yang digunakan oleh suatu judul koran dengan judul koran yang lain. suatu kalimat itu memiliki makna yang sama, namun disampaikan dengan pemilihan kata yang berbeda sesuai dengan kesepakatan pada SOP media di perusahaan penerbit koran tesebut.
Buku putih sudah dapat dikatakan seperti identitas dari media itu sendiri. Tidak lupa juga, dalam menulis berita, setiap awak media harus selalu menggunakan formula 5W+1H agar berita yang dihasilkan akurat dan bisa dipercaya.

Kode Etik Jurnalistik

 Source
Dalam menulis berita, tentu saja ada aturan yang harus dipatuhi demi menjaga keteraturan serta untuk menumbuhkan rasa bertanggung jawab dari wartawan yang akan mengeluarkan berita, mengingat  berita yang dirilis akan dibaca oleh khalayak ramai. Ada banyak sekali kode etik yang harus dipatuhi oleh wartawan, berikut beberapa contoh kode etik yang harus dipatuhi:  

1. Merahasiakan identitas narasumber apabila narasumber ingin identitasnya dirahasiakan.
2. Merahasiakan identitas narasumber apabila hal tersebut dirasa mengancam kelangsungan hidup narasumber.
3. Berita yang disajikan berupa fakta yang ada, tidak boleh menyertakan opini (oleh opini, bila artikel ditulis pada kolom opini)
4. Tidak boleh menuduh seseorang sebagai tersangka secara semena-mena
5. Sensor gambar yang tak  patut dilihat, dll.

Yuk, kita menulis agar karya kita akan selalu dikenang! :)

Pepatah mengatakan, "Jika ingin dikenang, buatlah karya tulismu dan bagikan"

Salam SPEKTA !!!


Ditulis Oleh : Esa Ayuningtias (@ayuningtyasesa)
Disusun Oleh : Larassatti Dharma (@Larassattidn)


Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.